Benteng Majapahit: Bukti Jejak Permukiman Manusia Masa Lampau di Bumi Lampung

Oleh: Nurul Laili, SS

Lokasi

Situs Benteng Majapahit berada di Kampung Pekurun, Kecamatan Abung Tengah, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung. Lokasi situs sangat mudah dicapai baik menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Dari Kotabumi menuju Way Kunang hingga sampai di Simpang Way Kunang ke arah kiri menuju Kampung Pekurun. Lokasi situs Benteng Majapahit dapat dijangkau dari Kampung Pekurun melalui jalan inspeksi di sisi saluran irigasi Way Rarem. Pada sipon I (pintu air) melewati jalan setapak ke arah baratlaut berjarak 80 m akan sampai di lokasi situs.

Asal Muasal Nama Benteng Majapahit

Nama situs, menurut pemuka setempat tidak berkait dengan keberadaan Kerajaan Majapahit akan tetapi didasarkan pada tumbuhan yang diperoleh dari sekitar lahan yaitu tanaman Mojo sehingga dipergunakan sebagai nama lokasi.

Jejak Permukiman

Keseluruhan tinggalan arkeologis tersebar di lahan seluas sekitar 9 hektar. Jejak permukiman berupa menhir, tumulus, manik-manik, beliung, obsidian, keramik asing, dan tembikar. Selain itu juga diperoleh sebagai hasil penggalian berupa jejak getah damar, dan tatal batu/serpih dari sejenis chert (rijang).

Kawasan situs dikelilingi oleh benteng tanah dan sungai. Permukiman di kawasan ini ditata dan dibagi menjadi 3 ruang dan antar ruang dihubungkan dengan benteng tanah dan parit. Memasuki situs dengan melewati sipon I (pintu air I) akan bertemu dengan ruang I. dalam ruang I ini terdapat 3 tumulus. Tumulus merupakan gundukan tanah buatan yang membukit. Pada masa prasejarah, khususnya pada masyarakat prasejarah, khususnya pada masyarakat tradisi megalitik, makam-makam sering dibuat dalam bentuk ini. Salah satu tumulus yang terletak pada tengah ruang I di sampung jalan setapak yang membelah situs Benteng Majapahit dikenal dengan nama “Keramat babi”.

Di sebelah utara ruang I dengan melintas benteng tanah dan parit terdapat ruang II. Tinggalan arkeologis yang ditemukan di ruang II adalah sebuah tumulus.

Dengan melintas benteng tanah dan parit di sebelah utara ruang ini sampailah di ruang III. Pada ruang ketiga, yaitu terdapat sebuah ruang yang paling dekat dengan muara (pertemuan tiga sungai yaitu Way Rarem, Tulung Areng, dan Way Bangi) berdiri sebuah batu tegak yang dikenal dengan nama menhir. Menhir adalah medium penghormatan, penampung kedatangan roh, dan sekaligus menjadi lambang dari orang-orang yang diperingati. Meyusuri ruang ini dan semakin mendekat ke arah muara akan banyak menjumpai fragmen keramik asing dan tembikar. Beberapa keramik yang pernah ditemukan merupakan keramik yang berasal dari Eropa (abad 19 – 20) dan keramik Cina dari masa dinasti Qing (abad ke 17 – 20), dinasti Ming (abad ke 14 – 17), keramik dari Thailand (abad ke 13 – 17). Tinggalan lain yang diperoleh di ruang ini adalah manik-manik, beliung dan batu obsidian.

Close