Pecinan

Oleh: Dra. Desril Riva Shanti

Pemukiman sebagai bagian tata kota penempatannya ditetapkan oleh penguasa. Di dalam menempatkan letak pemukiman tersbut, tentunya penguasa mepertimbangkan berbagai aspek, misalnya aspek sosial, aspek ekonomi, maupun aspek keamanan sesuai dengan alam pikiran kebudayaannya. Pemukiman etnis Tionghoa, sebagai bagian dari tatakota maka penempatannya tidak terlepas dari pertimbangan-pertimbagan tersebut. Di pihak lain, yaitu masyarakat etnis Tionghoa sebagai penghuni pemukiman tentunya mempunyai pertimbangan tersendiri dalam menentukan letak pemukimannya. Hal ini disebabkan masyarakat etnis Tionghoa mempunyai kebudayaan yang berbeda dengan penguasa. Akan tetapi, meskipun masyarakat etnis Tionghoa mempunyai kebudayaan yang berbeda ternyata dalam hal menentukan letak lokasi pemukiman etnis Tionghowa dapat terwujud.

Pecinan merupakan permukiman masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia yang telah ada jauh sebelum bangsa Eropa datang, teruama di bandar-bandar perdagangan sepanjang pesisir pantai utara Pulau Jawa. Pecinan tumbuh pesat setelah kedatangan bangsa Eropa dan pertumbuhan pecinan sangat dipengaruhi oleh strategi kebijakan politik dan ekonomi pemerintahan kolonial Belanda. Namun, unsur-unsur filosofi budaya, tradisi, dan warna religius etnis Tionghoa tetap terlihat. Di kawasan pecinan terdapat klenteng, makamk, dan rumah tinggal yang kadang-kadang sekaligus berfungsi sebagai toko. Pemukiman di pecinan dibagi ke dalam blok-blok, setiap blok dipisahkan oleh jalan kecil. Rumah-rumah umumnya tidak memiliki pekarangan sehingga nampak hampir terintegrasi dengan jalan raya, tata ruang tersebut disebabkan pecinan selain sebagai pemukiman, juga berkembang sebagai daerah perdagangn.

Prototype rumah tinggal di pecinan dapat ditemukan di beberapa kota di Indonesia. Penataan ruang rumah tinggal berarsitektur etnis Tionghoa pada umumnya cenderung simetris dengan ruang terbuaka, berualang dan bertahap. Biasanya terdiri dari tiga pelataran, jika dilihat dari susunan massa yang terbentuk, akan terlihat susunan atap yang makin meninggi ke belakang. Hal ini menunjukkan bajwa semakin tinggi bangunan akan semakin penting artinya dan berfungsi sebagai bangunan utama. Gaya paling khas dari arsitektur etnis Tionghoa, dapat terlihat dari bagian atap bangunan. Umumnya atap dilengkungkan dengan cara ditonjolkan agar tampak berbidang besar pada bagian ujungnya, pada bagian ujung bubungan berbentuk kipas.

Klenteng termasuk infrastruktur utama di pecina yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat peribadatan yang bersifat ritual dan sakral. Melainkan juga untuk kepentingan kemasyarakatan, di dalam klenteng terjadi pertukaran informasi yang lambat laun dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan persaudaraan. Klenteng sebagai sarana untuk menanamkan dan melestarikannilai-nilai luhur budaya masyarakat etnis Tionghoa secara berkesinambungan antar generasi. Kawasan pecinan di Indonesia ada empat jenis klenteng, yaitu Klenteng Buddhis, Klenteng Taois, Klenteng Kejuruan, dan Klenteng Peringatan (Setiawan, 1982: 23). Arsitektur etnis Tionghoa, khususnya untuk bengunan suci atap merupakan salah satu komponen yang mendapat perhatian. Bentuk atap bangunan klenteng yang satu denga yang lainnya tidak selalu sama.

Atap klenteng umumnya berbentuk landai, atap yang bergenteng dihias dengan indah. Sudut-sudut atap melengkung ke atas dengan ujung-ujung atap dihiasi dengan naga, dan gambar-gambar yang terbuat dari porselin merupakan ornamen bagi bangunan klenteng. Ornamen merupakan salah satu bentuk pemuasan kebutuhan religi dan menjadi sara meng-komunikasikan konsep ajaran, dan falsafah dalam komunitas masyarakat Tionghoa.

Makam orang Tionghoa yang biasa disebut Bong, menunjukkan bukti nyata adanya orang Tionghao yang meninffal dan besar kemungkinan bermukim pada suatu tempat atau di sekitar situs. Makam orang Tionghoa umumnya berlokasi tidak jauh dari kawasan pecinan. Sesuai dengan fengsui, makam orang Tionghoa diletakkan di sebaidang tanah yang lengkung landai, bukit-bukit dan dekat dengan air yang mengalir. Makam orang Tionghoa pada umumnya sangat besar dan indah hiasannya, di depan nisan ada meja kecil sebagai altar untuk sembahyang. Bentuk makam berhubungan dengan tradisi kepercayaan ziarah kubur anggota keluarga pada hari Oing Beng. Pembangunan makam yang besar dan megah adalah refleksi rasa bakti pada orang tua atau leluhur. Dalam kepercayaan masyarakat etnis Tionghoa, kerusakan makam berarti kesengsaraan roh di akhirat (Sukiman, 1975:29).

Close