Penggunaan LiDAR di Bidang Arkeologi

Bandung — Pada tanggal 13 Maret 2018, Fransisco Gonlcaves dari PT Map Tiga Internasional, Indonesia (sebelumnya bernama McElhanney Indonesia) memberikan presentasi mengenai penggunaan teknologi LiDAR di bidang penelitian arkeologi.

LiDAR (Light Detection and Ranging) merupakan istilah populer dari teknologi Airbone Laser Scanning (ALS). Airbone Laser Scanning dapat memberikan gambaran permukaan bumi dengan detail dan akurasi tinggi. Airbone Laser Scanning menghasilkan laser pulse yang sangat padat dan dapat diklasifikasikan sebagai non-ground (vegetasi dan bangunan) dan ground (permukaan tanah tanpa adanya vegetasi dan bangunan). Airbone Laser Scanning terdiri dari sistem laser berfrekuensi tinggi, GPS (Global Positioning System), dan Inertial Measurment Unit (IMU). Informasi yang dihasilkan dari data LiDAR umumnya berupa model permukaan bumi (Digital Surface Model dan Digital Terrain Model), Ortophoto, Cross section/profiles, dan 3D perspective models. Kerapatan titik hasil LiDAR dapat berjumlah 20 titik /m2 dan resolusi ortofoto sekitar 10-15 cm. Dalam penelitian arkeologi, teknologi LiDAR dapat digunakan untuk mengetahui situs-situs yang berada di lokasi dengan vegetasi lebat seperti di hutan atau gunung karena laser pulse yang dipancarkan LiDAR dapat mencapai sampai permukaan tanah. Dengan teknologi ini, penelusuran situs arkeologi dapat dilakukan dengan mudah. Penggunaan teknologi LiDAR sudah digunakan di beberepa situs arkeologi di Kamboja seperti di Angkor Wat. LiDAR membantu menemukan fitur-fitur yang tidak terlihat dari foto udara karena tertutup oleh vegetasi di sekitar Angkor Wat.

Dalam kesempatan tersebut, Fransisco tidak hanya memberikan presentasi mengenai teknologi LiDAR saja melainkan juga berharap adanya kerjasama penelitian arkeologi menggunakan teknologi LiDAR di wilayah kerja Balai Arkeologi Jawa Barat. (Balar Jabar/Siswanto)

Close