Sejarah Balai Arkeologi Jawa Barat
Sebelum Balai Arkeologi Bandung berdiri, sebagai cikal bakal sejak 1981 merupakan Laboratorium Paleoekologi dan Radiometri yang merupakan instalasi Bidang Arkeometri Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Balai Arkeologi Bandung berdiri pada tahun 1992 berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0290/O/1992 dengan wilayah kerja meliputi Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Kalimantan Barat.
Berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 103 tahun 2001 Balar terintegrasi dalam Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata
Tahun 2003 berdasarkan Keputusan Presiden No. 29, 30, 31, dan 32 tentang Penggabungan Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata ke dalam Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Balar Bandung berada langsung di bawah Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata
Berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. KM.53/OT.001/MKP/2003 tangal 5 Desember 2003 tentang ORTALA Balai Arkeologi. Balai Arkeologi Bandung memiliki wilayah kerja meliputi Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.34/OT.001/MKP-2006 tanggal 7 September 2006 tentang ORTALA Balai Arkeologi, Balar Bandung merupakan UPT Departemen Kebudayaan dan Pariwisata serta berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
Tahun 2011 dikembalikan lagi kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 27 tahun 2015 tentang ORTALA Balai Arkeologi, Balai Arkeologi Bandung berubah nama menjadi Balai Arkeologi Jawa Barat dengan wilayah kerja meliputi Propinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung