Batu Tukuh di Kawasan Lebak Cibeduk

Oleh: Dr. Lutfi Yondri, M.Hum

Lebak Cibeduk secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Citorek, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Areal dan lingkungan geografis wilayah ini merupakan tanah perbukitan dan hutan lindung yang berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun. Untuk mencapai Lebak Cibeduk dapat ditempuh dengan kendaraan dari Cikotok sampai di Desa Citorek yang berjarak sekitar 34 km dalam waktu antara 3.5 – 4 jam dengan kondisi jalan yang sangat rusak. Atau melalui Cipanas sampai ke Desa Citorek dengan menempuh jalan berliku-liku di daerah perbukitan. Selanjutnya dari Desa Citorek perjalanan untuk mencapai lokasi hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki dengan jarak sekitar 9 km dengan waktu tempuh antara 3 – 4 jam melalui jalan setapak dengan melintasi dua punggungan bukit.

Di samping memiliki tinggalan arkeologi berupa tinggalan tradisibudaya megalitik yang cukup besar dari segi ukuran, di wilayah tersbut sampai saekarang masih banyak memiliki tinggalan lain yang masih merupakan tinggalan bercorak megalitik yang sarat akan unsur-unsur budaya yang melatar belakanginya. Oleh masyarakat tinggalan tersebut disebut denan “batu tukuh”.

Semua batu tukuh yang ada di Lebak Cibedung tersebut di kawasan sebelah barat dari bangunan berundak Lebak Cibedug. Situs-situs tersebut terletak pada lahan-lahan yang membentuk pendataran yang terletak tidak jauh dari aliran sungai, dan tidak ada yang terletak lebih tinggi dari bangunan berundak Lebak Cibedug. Kapan didirikannya batu tersebut tidak satupun diantara penduduk kampung dapat menjelaskannya, yang mereka ketahui batu tersebut sudah ada jauh sebelum mereka. Menurut keterangan sesepuh kampung (kuncen), dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lebak Cibedug mensakralkan secara turun temurun batu tersebut karena batu tukuh dalam adat mereka merupakan simbol proses pendirian kampung. Hal ini mereka maksudkan bahwa sebelum sebuah kawasan akan dijadikan sebagai kampung berdasarkan wangsit yang diterima oleh sesepuh kampung, maka lokasi itu kemudian ditandai dengan pendirian batu tukuh. Batu-batu tukuh tersebut bisa berbentuk bangun persegi (batur punden) atau juga berupa bangunan berundak-undak yang kemudian dilengkapi dengan menhir atau batu datar di bagian teratasnya. Mungkin proses pendirian kampung dan perpindahan kampung tersebut memiliki kemiripan dengan kebiasan berpindah kampung dari satu lokasi ke lokasi yang lain oleh masyarakat yang hidup di sekitar Taman Nasional Gunung Halimun yang saat sekarang masih diwarisi oleh masyarakat Ciptagelar.

Close